Hubungan Arab Saudi Indonesia?

Indonesia merupakan mitra yang strategis bagi Arab Saudi dan negeri Timur tengah lainnya. Secara historis dan religious, hubungan baik Indonesia dan Arab Saudi setidaknya oleh berbagai persamaan kepentingan dan dalam budaya. Dalam perjalanannya hubungan baik Indonesia dengan Arab Saudi terjalin semakin erat pada Era Presiden Soekarno dan Raja Faisal dan kini diteruskan oleh Presiden Joko Widodo. Kepala Negara mengatakan Indonesia merupakan destinasi investasi yang menarik bagi kalangan investor. “Kami ke Negara-negara Teluk yang kami kunjungi pertama kali adalah Saudi Arabia, kita yakini saudara yang dekat dan kami yakini bahwa hubungan ekonomi ini benar-benar akan meningkat dalam waktu dekat”. Kata presiden (antaranews.com). Pada 2014 nilai perdangan kedua Negara kembali meningkat mencapai 8,67 miliar dolar AS, dengan nilai ekspor Indonesia sebesar 2,15 miliar dolar dan impor 6,51 miliar dolar. Indonesia mengalami defisit sebesar 4.36 miliar dolar.

Bahkan nanti di bulan maret tahun 2017 ini pun orang nomer wahid di Arab Saudi merencanakan untuk berkunjung ke Indonesia lagi untuk melanjutkan hubungan bilateral kedua Negara. Arab Saudi bakal menanamkan investasi yang cukup besar di Indonesia. Salah satu kerja sama yakni perusahaan minyak Saudi, Aramco, dengan Pertamina senilai USD 6 miliar (sekitar Rp 79,8 triliun) untuk pengembangan kilang minyak di Cilacap. Secara keseluruhan, diharapkan investasi yang bisa msuk dari Saudi mencapi USD 25 miliar atau sekitar Rp 332,5 triliun.

Ternyata hubungan kedua negara terjalin dengan begitu erat di berbagai bidang. Gambaran yang mungkin dibenak kita semua suatu pemandangan yang begitu indah dengan saling bahu membahu untuk peningkatan ekonomi. Tetapi euforia kebahagiaan itu ternyata hanya hisapan jempol saja. Karena diawal tahun 2017 ini pemerintah Indonesia memberikan kado pait kepada rakyatnya. Rakyat dijadikan objek sapi perahan untuk mengisi perut-perut tuannya. Lihat saja bagaimana pemerintah menaikkan tarif dasar listrik bagi pelanggan 900 VA dimana tarif semula sebesar Rp 605 per kWH menjadi 791 kWH. Berarti terjadi kenaikan tarif sampai 30,7%.. ini merupakan kenaikan tahap pertama.Tarif surat kendaraan naik sampai 300%, kenaikan tarif cukai rokok rata-rata naik 10,54% melalui Peraturan Menteri Keuangan Nomor 147/PMK.010/2016. Alhasil, mulai 1 Januari 2017 harga jual eceran rokok paling rendah adalah Rp 655 untuk sigaret rokok mesin, sigaret kretek tangan dengan harga Rp. 585 perbatang, sigaret tangan filter sebesar Rp 655 dan untuk sigaret kretek tangan dan sigaret kretek putih sebesar Rp. 400 perbatang. Dan harga BBM Non Subsidi juga naik serempak sebesar Rp 300 (halomoney.co.id).

Bagaimana kondisi internal Arab Saudi? Sungguh sangat menyedihkan, bahwa penulis melihat bilādul haramain al-syarīfain (negeri dua tempat suci), dan tempat turunnya wahyu berada dalam cengkraman imperialis. Kaum imperialis seperti AS dan Inggris saling berebut, mencuri kekayaannya, mengendalikan kebijakannya, menyebarkan ide-idenya, serta menyerang Islam dan kaum Muslim dari benteng dan sumbernya.

Bagaimana sikap kedua negara (Indonesia – Arab Saudi) untuk memberi perlindungan terhadap ribuan Muslimah Indonesia yang jadi TKW? Setelah puluhan tahun dan setelah ribuan korban berjatuhan akibat diperbudak, dianiaya bahkan dibunuh. Kedua negeri muslim ini telah melanggengkan praktek eksploitasi terhadap jutaan perempuan Muslimah, demi keuntungan ekonomi dan kepentingan nasional masing-masing. Para penguasa ini tidak menyadari bahwa nasionalisme dan sistem negara-bangsa yang mereka anut telah membawa pada kehancuran martabat umat Islam, dengan memperlakukan saudari mereka sendiri sebagai barang dagangan dan melakukan praktek dehumanisasi pada mereka yang bukan berasal dari bangsanya. Sebaliknya, para penguasa negeri-negeri Muslim juga dengan bangganya menerapkan dan memuja sistem Kapitalisme sekuler di negeri mereka – baik sistem nilainya dan prinsip-prinsip ekonominya yang imperialistik- dan terus berpegang teguh memelihara sistem rusak ini dengan melakukan usaha-usaha parsial seperti memperbaiki hukum ketenagakerjaan ataupun melakukan perjanjian bilateral yang sebenarnya adalah tindakan tidak berarti dan tidak akan berdampak besar dalam mengurangi penindasan ekonomi terhadap buruh migran.

Tidak heran karena para penguasa ini sejatinya adalah sisa-sisa kolonial dari negara Kapitalis Barat yang berlindung dibalik ide nasionalisme dan perjuangan kemerdekaan negara-bangsa yang merupakan bagian dari strategi negara Barat untuk memecah-belah umat Islam melalui runtuhnya institusi Khilafah Ustmaniyah di Turki tahun 1924. [VM]

Penulis: Hadi Sasongko (analis Politik di PKDA)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s