Orang yang Takut dan Hasbunallah Wani’mal Wakil

Foto: Favim.com

 

SAUDARAKU, Ja’far Ashiddiq Ra. Berkata tentang ketakutan: “Aku terkesima kepada orang yang merasa ketakutan kemudian mengucapkan ‘Hasbunallah wani’mal wakil’ (cukuplah Allah sebagai penolong kami dan sebaik-baik tempat berlindung). Sesungguhnya setelah itu aku mendengar Allah menjawab: ‘Maka mereka kembali dengan ni’mat dan karunia (yang besar) dari Allah, mereka tidak mendapat bencana apa-apa, mereka mengikuti keridhaan Allah. Dan Allah mempunyai karunia yang besar,” (QS. Ali Imran:174).

Maka sesungguhnya Ja’far Asshiddiq Ra. telah memberikan resep untuk rasa takut dengan mengucapkan “hasbunallah wa ni’mal wakil” karena kekuatan Allah melebihi kekuatan lain yang membuatmu takut, dan selama itu pula kamu ucapkan “hasbunalla wa ni’mal wakil” dalam menghadapi segala sesuatu yang menakutkanmu.

Tentang kemuraman atau kegalauan

Kegalauan berbeda dengan rasa takut, karena takut adalah  kekhawatiran diri karena sesuatu yang diketahui penyebabnya, sedangkan galau adalah depresi atau kekhawatiran diri karena sesuatu yang kadang tidak diketahui penyebabnya karena hal tersebut merupakan kondisi psikologi seseorang yang semrawut.

Saudaraku,

Dan aku terkesima kepada orang yang dilanda kegalauan, tetapi dia tidak cemas. Lalu dia mengucapkan “La ilaha Illah Anta Subhanaka inni kuntu minadzholimin,” (tidak ada tuhan selain Engkau ya Allah, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang yang berbuat zhalim). Maka sesungguhnya setelah itu aku mendengar Allah menjawab: “Maka Kami telah mengabulkan do’anya dan menyelamatkannya dari pada kedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman,” (QS. Al Anbiya:88).

Tetapi terkabulnya do’a dan keselamatan ini tidak hanya dikhususkan kepada orang tersebut, akan tetapi sebagaimana sabda Allah SWT “dan Demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman” yaitu berarti orang-orang mu’min pun juga mendapatkan keselamatan.

Tentang tipu daya

Orang yang terpedaya yaitu orang yang diperdaya oleh orang lain dan tidak punya kekuatan untuk menghadapi tipu dayanya.

Saudaraku,

Dan aku terkesima dengan orang yang terpedaya oleh tipu muslihat orang lain tetapi tidak gentar dan mengucapkan kalam Allah: “ Dan aku menyerahkan urusanku kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya”.(QS. Al Mu’min:44)

Sesungguhnya setelah itu aku mendengar Allah menjawab: “ Maka Allah memeliharanya dari kejahatan tipu daya mereka”.(QS. Al Mu’min:45)

Tentang mengharap dunia dan segala perhiasannya

Dan aku terkesima kepada orang yang mengharapkan dunia dan segala perhiasannya kemudian dia mengucapkan sabda Allah: “MAASYAA ALLAH, LAA QUWWATA ILLAA BILLAH” (sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah) (QS Al Kahfi:39)

Saudaraku,

Sesungguhnya setelah itu aku mendengar Allah menjawab: “Sekiranya kamu anggap aku lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan, maka mudah-mudahan Tuhanku, akan memberi kepadaku (kebun) yang lebih baik daripada kebunmu (ini),” (QS Al Kahfi:39-40). [Oleh: Syeikh Muhammad Mutawalli Sya’rawi, diterjemahkan oleh Dedih Mulyadi, Lc]

Hamze, Muslimah Pertama di Akademi Militer Amerika Serikat

ISLAM dikenal sebagai agama minoritas di Amerika Serikat. Namun disela-sela minoritas tersebut tak menjadi halangan seorang gadis muslim bernama Sana Hamze untuk menjadi mahasiswi sekolah militer Vermont, Universitas Norwich.

 

Hamze bukanlah muslim pertama di sekolah tersebut, yang membuat unik bahwa dialah muslim pertama yang mengenakan jilbab untuk bersekolah militer AS.

Gadis muslim tersebut mengaku pernah menghadapi upaya permusuhan saat mengenakan jilbab  di area publik. Tetapi, hal itu tidak dia alami saat berada di Norwich.

Perlakuan diskriminasi yang dia terima karena imannya tidak mematahkan impian Hamze untuk mengabdi pada negaranya.

“Itu tidak membuat saya takut karena saya tahu apa yang saya lakukan tidak bisa membuat semua orang nyaman. Saya tahu apa yang saya lakukan adalah untuk melindungi negara. Saya bergabung dengan militer untuk melindungi negeri ini,” ujar Hamze dilansir dari dailymail.co.uk. []

SatuMedia

Penasihat Keamanan Baru AS Pisahkan antara Terorisme dan Islam

Foto: National Review

AMERIKA mempunyai Penasihat Keamanan Nasional yang baru. Kabarnya, ia mengatakan kepada para stafnya bahwa muslim yang melakukan tindak terorisme telah merusak Islam. Pandangannya ini justru berbeda dari pandangan para penasihat Presiden Donald Trump lainnya.

Letnan Jenderal H.R. McMaster mengatakan kepada para anggota Dewan Keamanan Nasional bahwa penggunaan istilah “terorisme Islam radikal” tidak tepat dan kontra-produktif. Menurutnya, tindakan teroris itu sendiri “tidak Islami,” dilaporkan surat kabar New York Times.

Ucapan McMaster itu kabarnya diucapkan dalam rapat pertamanya dengan semua staf, Kamis (23/2).

Komentar McMaster ini bertentangan dengan ucapan yang sering dikeluarkan oleh presiden dan pendahulunya, Michael Flynn.

Ucapan McMaster itu kemungkinan merupakan tanda awal bagi McMaster yang ingin menjauhkan dewan keamanan nasional dari pandangan ideologis Flynn. []

SatuMedia

Jika Ulama di Penjara, Kepada Siapa Umat Bertanya tentang Agamanya?

Pada zaman sekarang, begitu banyak umat manusia yang meremehkan ulama, bahkan tak jarang menghina ulama, baik dengan nada sindiran maupun dengan kata-kata keji yang sangat tidak beradab. Penghinaan tersebut justru muncul dari beberapa public figure yang notabene dikenal banyak orang. Mulai dari komika bernama Uus dengan menjadikan Habib Rizieq Siehab sebagai bahan lawakan di Twitter, tokoh politik sekelas Basuki Tjahaya Purnama (Ahok), dan yang baru saja ramai dibicarakan artis yang sekaligus Mu’allaf Angel Lelga yang secara terang-terangan menuduh ulama mengeluarkan fatwa haram memilih pemimpin kafir karena pesanan pihak politik tertentu (hot.detik.com). Lebih jauh ia (AL) menganggap para pemberi fatwa sebagai penjual agama (Detikfokus.com, 20/2/2017). Sungguh ironi! Umat Islam tidak percaya pada ulama mereka sendiri, bahkan lebih buruk lagi, di negeri yang mayoritas penduduknya muslim ini, ulama dikriminilasisasi, dilaporkan ke polisi denga tuduhan-tuduhan tertentu. Astagfirullah.

Posisi Ulama dalam Setiap Masa; Pengantar umat Memahami Hukum Al-Quran
Bagi setiap pemeluk Islam, mereka mengimani apapun yang dikabarkan dalam kitab sucinya. Terlepas apakah ia sudah memahami maknanya tanpa perlu mendatangkan mufassir, atau ia memerlukan mufassir tertentu agar ia bisa memahami apa yang dimaksud pada untaian kata yang termaktub di dalamnya. Karena tiap ayat bukanlah dogma yang tidak bisa dimengerti. Jikalau ayat Al-Quran tidak bisa dimengerti berarti Al-Quran tidak diturunkan untuk manusia di muka bumi. Tetapi faktanya, ayat Al-Quran seberapapun sulitnya dimengerti, tetap ia bisa dicerna oleh akal manusia maksud di dalamnya.

Susungguhnya Kami menurunkannya Al-Quran dengan berbahasa Arab agar kamu memahaminya” (TQS. Yusuf [12]: 2)

Bagi umat Islam, Al-Quran adalah petunjuk hidup, jalan hidup, tuntunan sikap manusia. Bagaimana saat manusia senang maupun saat susah, saat lapang maupun sempit, saat kaya maupun saat miskin, semua dicontohkan dalam Al-Quran dan As Sunah sebagai penjelasnya. Karena setiap sikap umat manusia akan dihisab berdasarkan kadarnya, dan akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah, Tuhan Pengatur Semesta.

Maka demi Tuhanmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua, tentang apa yang telah mereka kerjakan dulu” (TQS. Al-Hijr [15]: 92-93).

Kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari Al-Quran , dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya

Jika dalam Al-Quran terdapat ayat yang multitafsir (mustayabihat), maka hal tersebut perlu penggalian lebih jauh menggunakan dalil yang lain, baik dalil sunnah, ijma’ dan qiyas oleh orang yang memang benar-benar memiliki ilmu di dalamnya. Pada jaman dulu umat Islam banyak merujuk pada imam-imam besar seperti imam Hanbali, Abu Hanifah, pun Imam Syarfi’I yang hingga saat ini kitab mereka masih menjadi rujukan dalam setiap penulisan. Namun seiring berjalannya waktu, di mana umat Islam semakin jauh dengan pemahaman Islam, kebiasaan bertanya pada imam besar atau ulama pun semakin terkikis. Padahal ulama adalah jembatan ilmu agama. Dalam I’lamul Muwaqqin, Ibnu Al-Qayyim membatasi pengertian ulama sebagai orang yang pakar dalam hukum Islam, yang berhak berfatwa di tengah manusia, yang menyibukkan diri dengan mempelajari hukum-hukum Islam, kemudian menyimpulkannya, dan yang merumuskan kaidah halal-haram agar umat bisa lebih mudah memahaminya.

Ulama adalah jembatan umat dalam memahami Al-Quran. Mereka tidak berfatwa sesuka hatinya, berdasarkan kedangkalan berpikir yang layaknya dimiliki kebanyakan orang karena ulama menghabiskan waktunya untuk beribadah dan mempelajari Al-Quran tanpa dijanjikan gelimang harta oleh siapapun. Ulama tempat bertanya hukum suatu perbuatan yang tidak dimengerti oleh manusia sekaligus tempat bertanya umat tentang agamanya. Tanpa tendensi apapun, tanpa pengaruh siapapun. Karena ulama menjawab sesuai dengan dalil syari yang dipahami, bukan berdasarkan dalil yang dibuat oleh dirinya sendiri. Adapun ulama yang ia bisa dibeli dengan harta duniawi, maka jelas ini bertentangan dengan sifat dari ulama sendiri, dan tentu akan terlihat jelas berdasarkan fatwa/ketentuan hukum yang dikeluarkan berdasarkan dalil yang ia miliki.

Penerapan Sekulersime; Pangkal Segala Kriminalisasi Ulama
Paham Sekulerisme menjadikan agama tidak selayaknya mengatur kehidupan publik manusia. Ketika paham sekulerisme ini diterapkan Negara, maka selamanya agama akan ditinggalkan oleh negara dan negara pun menolak setiap campur tangan agama dalam urusannya. Karena agama hanya boleh mengatur urusan tertentu saja, namun tidak diperkenankan mengurus persoalan manusia yang lainnya. Tidak heran jika pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan sistem sanksi tidak berbasikan Islam, justru berbasiskan undang-undang Barat.

Negara yang menerapkan sekulerisme akan menganggap ulama bukanlah tiang penting dari berdirinya negara dan penjaga negara, melainkan sebatas kumpulan orang yang mengeluarkan fatwa. Inilah yang semakin menjauhkan umat Islam dengan agamanya sendiri. Selama paham sekulerisme diterapkan, ulama tidaklah memiliki fungsi apa-apa kecuali sebatas pengeluar fatwa, dan selama itu pula umat Islam akan semakin jauh dari agamanya, bahkan akan semakin menganggap remeh terhadap para alim ulama.

Padahal ulama adalah warisan nabi satu-satunya. Sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah :
Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh, para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham . sungguh, mereka hanya mewariskan ilmu. Barangsiapa yang mengambil warisan tersebut, ia telah mengambil bagian yang banyak” (HR. Al-imam At- Tirmidzi)

Allah saja memuliakan ulama sedemikian rupa, bagaimana bisa umat menyepelekannya dengan mudahnya? Seharusnya kita malu pada ulama. Mencari sisi kebenaran pada mereka yang menghabiskan waktunya untuk bermunajat padaNya, bukan lantas menyombongkan diri di atas ulama sementara kita sendiri amat dungu terhadap ilmu agama. Bukankah bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai para guru dan ulamanya? Mari mengembalikan kebiasaan umat Islam seperti pada jaman Rasul dan para sahabat yang seumur hidupnya senantiasa mencintai ilmu dan gurunya, mencintai agama dan ulamanya, serta mencintai Allah dan RasulNya melebihi segalanya. Karena hanya dengan kehidupan Islam dan peraturan Islam umat akan terjamin dalam setiap pelaksanan perintah dan laranganNya, pun Islam akan terlihat nyata sebagai rahmatan lil alamin.

Jika ulama dipenjara, umat Islam kepada siapa umat bertanya tentang agamanya? Jika ulama saja dipenjara, bagaimana umat Islam mau belajar ilmu agama? Jika ulama dibui, siapa yang akan diikuti? Wallahu ‘alam bi ash shawwab. [VM]

Penulis: Meyra Kris Hartanti, S.KM (Praktisi Pendidikan)

Ketika Pak Kacab Sebuah Bank Kaget dengan Ayat-ayat Riba Al-Quran

Foto: Futuready

KEMARIN saya membaca postingan kawan saya mas Marjunul Noor Purwoko, yang mengunggah keluhan temannya mas Dede Risnandar, berikut kutipannya.

Inilah fakta yang terjadi di Indonesia sangat-sangat NgeRIBAnget. Apalagi kalo di bank konvensional, masya Allah lebih kejam, ini terjadi kepada saya sendiri.

Saat mau melunasi pinjaman saya yang harusnya bayar pokoknya saja, tapi karena di percepat kena pinalti, masya Allah pinaltinya besar sekali! Surat permohonan keringanan penghapusan pinalti yang saya ajukan tidak di terima.

Sangat kejam padahal pegawainya muslim semua. Karena kecewa campur emosi saya harus cepat keluar dari urusan dengan bank ini, akhirnya terpaksa saya bayar semua dan semoga Allah ridho dengan apa yang saya lakukan, Allah tahu hambanya terdesak dan teraniaya, mudah-mudahan ada hikmahnya.”

Mmmm.. Pinalty-nya hingga 4 kali cicilan.. 41,6 juta… Siapapun bakal nyesek melihatnya. Memang kebijakan bank beda-beda, ada yang berani mengambil keputusan tanpa bunga karena pimpinan bank itu tersentuh hatinya.

*****

Berikut kisah kawan lainnya yang punya hutang sekitar 52 juta termasuk bunga dan denda, dia memblacklist dirinya tidak membayar cicilan dua bulan karena takut dengan dosa riba.

Setiap ditelpon dan ditagih dia mengiyakan akan segera membayar. Bulan ketiga ketika ditagih, dia memaksa bertemu dengan pimpinan banknya. Dialognya kurang lebih begini.

“Pak, sebagai orang yang punya hutang saya tau diri, kalau saya harus melunasi hutang-hutang saya karena saya tidak mau ini dibawa mati. Namun saya bertemu bapak hari ini untuk meminta keringanan dari utang-utang saya pak, terutama beban bunga dan dendanya, saya sudah siapkan uangnya.” Katanya dengan pede!

“Mohon maaf pak, aturan kantor kami tidak begitu, bapak tetap harus membayar bunga dan dendanya semua..”

“Bapak muslim?”

“Iya pak”

Sambil menyodorkan selembar kertas dengan beraninya dia menjelaskan kepada pimpinan bank itu.

“Pak, akad kita ini adalah riba yang dilaknat oleh Allah dan rasulnya. Ini pak ayat-ayat dan hadistnya silahkan baca. Kita di ruangan ini disaksikan malaikat pak, semua akan dipertanggungjawabkan di akherat pak. Saya tidak siap, saya takut pada Allah pak. Bapak sebagai pimpinan cabang diamanahi kekuasan, pasti bapak bisa mengambil keputusan meringankan beban saya. Semoga dosa kita diampuni oleh Allah pak, para malaikat saat ini menjadi saksi merekam pertemuan kita.”

Kepada cabang bank itu terdiam.

Seperti tersentuh hatinya dengan kata-kata itu. Entah galau, entah takut, atau merasa sial ketemu nasabah yang ngeyelan. Hehe.

Tapi itulah Allah jika berkehendak, Yang Maha Pembolak-balik Hati. Ya muqolibal quluuub!

Pimpinan bank itu memanggil stafnya, membuatkan surat agar kawan kita ini diberi keringanan di sisa hutangnya. Dari 52 juta hanya diminta membayar pokok 39 juta.

Tanpa bunga.

Tanpa denda.

Tanpa pinalty.

Masya Allah, tidak ada yang gak mungkin di dunia ini jika Allah sudah campur tangan memberikan solusi. Sistem perbankan pun buatan manusia kok, pasti ada lemahnya dimana-mana. Tak ada yang perfect sempurna.

Kadang kita mendengar kisah-kisah lainnya, orang yang ingin bebas hutang dari pinjaman kepada kawan, saudara, teman, eh malah mereka yang tanpa diminta mengikhlaskan dan mendoakan orang yang berhutang itu.

Selalu dekati Allah disetiap masalah yang kita hadapi. Jangan mengejar solusi saja, bakal capeeeek jadinya.

Kejarlah Allah Yang Maha Pemilik Solusi. Negosiasi serumit apapun, akan mudah jika Allah sudah membolak-balikkan hati. []

 

Sumber : Wakaf Quran.

Hubungan Arab Saudi Indonesia?

Indonesia merupakan mitra yang strategis bagi Arab Saudi dan negeri Timur tengah lainnya. Secara historis dan religious, hubungan baik Indonesia dan Arab Saudi setidaknya oleh berbagai persamaan kepentingan dan dalam budaya. Dalam perjalanannya hubungan baik Indonesia dengan Arab Saudi terjalin semakin erat pada Era Presiden Soekarno dan Raja Faisal dan kini diteruskan oleh Presiden Joko Widodo. Kepala Negara mengatakan Indonesia merupakan destinasi investasi yang menarik bagi kalangan investor. “Kami ke Negara-negara Teluk yang kami kunjungi pertama kali adalah Saudi Arabia, kita yakini saudara yang dekat dan kami yakini bahwa hubungan ekonomi ini benar-benar akan meningkat dalam waktu dekat”. Kata presiden (antaranews.com). Pada 2014 nilai perdangan kedua Negara kembali meningkat mencapai 8,67 miliar dolar AS, dengan nilai ekspor Indonesia sebesar 2,15 miliar dolar dan impor 6,51 miliar dolar. Indonesia mengalami defisit sebesar 4.36 miliar dolar.

Bahkan nanti di bulan maret tahun 2017 ini pun orang nomer wahid di Arab Saudi merencanakan untuk berkunjung ke Indonesia lagi untuk melanjutkan hubungan bilateral kedua Negara. Arab Saudi bakal menanamkan investasi yang cukup besar di Indonesia. Salah satu kerja sama yakni perusahaan minyak Saudi, Aramco, dengan Pertamina senilai USD 6 miliar (sekitar Rp 79,8 triliun) untuk pengembangan kilang minyak di Cilacap. Secara keseluruhan, diharapkan investasi yang bisa msuk dari Saudi mencapi USD 25 miliar atau sekitar Rp 332,5 triliun.

Ternyata hubungan kedua negara terjalin dengan begitu erat di berbagai bidang. Gambaran yang mungkin dibenak kita semua suatu pemandangan yang begitu indah dengan saling bahu membahu untuk peningkatan ekonomi. Tetapi euforia kebahagiaan itu ternyata hanya hisapan jempol saja. Karena diawal tahun 2017 ini pemerintah Indonesia memberikan kado pait kepada rakyatnya. Rakyat dijadikan objek sapi perahan untuk mengisi perut-perut tuannya. Lihat saja bagaimana pemerintah menaikkan tarif dasar listrik bagi pelanggan 900 VA dimana tarif semula sebesar Rp 605 per kWH menjadi 791 kWH. Berarti terjadi kenaikan tarif sampai 30,7%.. ini merupakan kenaikan tahap pertama.Tarif surat kendaraan naik sampai 300%, kenaikan tarif cukai rokok rata-rata naik 10,54% melalui Peraturan Menteri Keuangan Nomor 147/PMK.010/2016. Alhasil, mulai 1 Januari 2017 harga jual eceran rokok paling rendah adalah Rp 655 untuk sigaret rokok mesin, sigaret kretek tangan dengan harga Rp. 585 perbatang, sigaret tangan filter sebesar Rp 655 dan untuk sigaret kretek tangan dan sigaret kretek putih sebesar Rp. 400 perbatang. Dan harga BBM Non Subsidi juga naik serempak sebesar Rp 300 (halomoney.co.id).

Bagaimana kondisi internal Arab Saudi? Sungguh sangat menyedihkan, bahwa penulis melihat bilādul haramain al-syarīfain (negeri dua tempat suci), dan tempat turunnya wahyu berada dalam cengkraman imperialis. Kaum imperialis seperti AS dan Inggris saling berebut, mencuri kekayaannya, mengendalikan kebijakannya, menyebarkan ide-idenya, serta menyerang Islam dan kaum Muslim dari benteng dan sumbernya.

Bagaimana sikap kedua negara (Indonesia – Arab Saudi) untuk memberi perlindungan terhadap ribuan Muslimah Indonesia yang jadi TKW? Setelah puluhan tahun dan setelah ribuan korban berjatuhan akibat diperbudak, dianiaya bahkan dibunuh. Kedua negeri muslim ini telah melanggengkan praktek eksploitasi terhadap jutaan perempuan Muslimah, demi keuntungan ekonomi dan kepentingan nasional masing-masing. Para penguasa ini tidak menyadari bahwa nasionalisme dan sistem negara-bangsa yang mereka anut telah membawa pada kehancuran martabat umat Islam, dengan memperlakukan saudari mereka sendiri sebagai barang dagangan dan melakukan praktek dehumanisasi pada mereka yang bukan berasal dari bangsanya. Sebaliknya, para penguasa negeri-negeri Muslim juga dengan bangganya menerapkan dan memuja sistem Kapitalisme sekuler di negeri mereka – baik sistem nilainya dan prinsip-prinsip ekonominya yang imperialistik- dan terus berpegang teguh memelihara sistem rusak ini dengan melakukan usaha-usaha parsial seperti memperbaiki hukum ketenagakerjaan ataupun melakukan perjanjian bilateral yang sebenarnya adalah tindakan tidak berarti dan tidak akan berdampak besar dalam mengurangi penindasan ekonomi terhadap buruh migran.

Tidak heran karena para penguasa ini sejatinya adalah sisa-sisa kolonial dari negara Kapitalis Barat yang berlindung dibalik ide nasionalisme dan perjuangan kemerdekaan negara-bangsa yang merupakan bagian dari strategi negara Barat untuk memecah-belah umat Islam melalui runtuhnya institusi Khilafah Ustmaniyah di Turki tahun 1924. [VM]

Penulis: Hadi Sasongko (analis Politik di PKDA)

Pangeran Saudi Bayar 30 Juta Dolar Untuk Puaskan Syahwatnya

Surat kabar Daily Mail melaporkan bahwa Putra Mahkota Arab Saudi, Pangeran Salman bin Abdul Aziz Al Saud membayar 30 juta dolar untuk memboking tiga pulau di Maladewa dari tanggal 19 hingga 25 Februari.

Sejumlah laporan mengatakan bahwa Pangeran Salman mengharuskan kedatangannya ke sejumlah pulau disertai dengan rumah sakit mobile, kapal pesiar mewah dan lebih dari 100 orang penjaga.

**** **** ****

Sangat menyedihkan bahwa seorang Putra Mahkota Arab Saudi yang mengklaim menerapkan Islam justru menghambur-hamburkan jutaan dolar untuk bersenang-senang di kepulauan Maladewa. Sementara setiap harinya darah kaum Muslim ditumpahkan di Suriah; pembantaian terhadap kaum Muslim yang lemah secara sistematis di Burma selama lebih dari dua tahun; setiap hari terjadi pembantaian terhadap kaum Muslim di Republik Afrika Tengah sejak terjadinya kerusuhan politik selama beberapa bulan yang lalu; warga Palestina menderita akibat penjajahan yang telah berlangsung selama puluhan tahun; kaum Muslim di di Sudan, Somalia dan Yaman tengah kelaparan; dan ratusan juta kaum Muslim lainnya masih diselimuti berbagai jenis penderitaan dan kesengsaraan.

Sungguh begitu menyakitkan kita melihat para penguasa Saudi justru bersenang-senang dan menghambur-hamburkan kekayaan umat untuk memuaskan syahwatnya dan keinginan nafsunya. Sementara mayoritas kaum Muslim hidup dalam kondisi kesulitan, penderitaan dan ketakutan.

Seandainya pangeran, raja dan para penguasa Arab Saudi lainnya masih memiliki sedikit kehormatan dan keimanan, niscaya mereka tidak akan menghambur-hamburkan kekayaan, sementara sebagian besar umat dalam keadaan sangat membutuhkan.

Inilah potret para raja dan pangeran yang menjadi budak keinginan syahwatnya. Mereka akan semakin jauh tersesat dalam kesalahan. Mereka terpisah dari umat secara pemikiran dan emosional. Mereka adalah para musuh umat, dan musuh generasi umat di masa mendatang. Mereka adalah para boneka kaum kafir penjajah yang hidupnya hanya untuk melayani dan menjaga kepentingan dan pengaruhnya.

Sehingga menjadi keharusan bagi warga Hijaz dan Najd untuk bangkit melawan mereka, mencabut mereka dari kekuasaan, dan menyelamatkan umat dari kejahatannya.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ وَأَنَّهُ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ

Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu. Dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya. Sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan.” (QS. Al-Anfal [8] : 24). [bu Isra’]

Sumber: hizb-ut-tahrir.info, 1/3/2014.

Ribut Freeport, Kelola Saja dengan Syariah!

freeportOleh : A. R. Zakarya (LS DPD HTI Jombang)

Perkembangan terakhir terkait situasi di tambang emas dan tembaga terbesar di Indonesia yang ada di Provinsi Papua, tak lepas dari pengamatan Sekretariat Nasional Jokowi (Seknas Jokowi). Dalam catatan relawan Jokowi tersebut, ada kecenderungan PT Freeport Indonesia (PTFI) bertindak kelewat batas dengan menolak dan mengabaikan regulasi yang diterbitkan pemerintah Indonesia.

Hal itu tampak dari penolakan PT Freeport terhadap Peraturan Pemerintah No 1 tahun 2017, Peraturan Menteri ESDM No 5 dan 6 tahun 2017, serta Peraturan Menteri Keuangan tentang bea keluar produk mineral.

“PTFI menolak perubahan dari Kontrak Karya (KK) menjadi Izin Usaha Pertambangan Khusus atau IUPK. PTFI menolak divestasi 51 persen, dan menolak bea ekspor yang ditetapkan Menkeu, ini kan seenaknya sendiri namanya,” kata Ketua Umum DPN Seknas Jokowi, M Yamin dalam keterangannya, Jakarta, Senin (20/2). (merdeka.com, 20/2/2017).

Pemerintah Tak Bernyali

Perjalanan Freeport bukan kali ini saja. Ribut-ribut sudah terjadi sejak lama, tatkala pemerintah Indonesia tidak berdaulat dalam pengelolaan SDA di Papua. Bumi Papua yang kaya dengan SDA menjadi daya tarik tersendiri bagi kepentingan korporasi asing maupun aseng. Perebutan pengelolaan itu sesungguhnya melibatkan pihak istana sebagai penentu kebijakan. Di sisi lain, lembaga legislatif lah yang selama ini telah menelurkan UU yang pro asing dan mengabaikan kepentingan rakyat.

Konflik yang kian meruncing terkait pengelolaan Freeport ini diperparah dengan arogansi Freeport McMoran yang membawa ke dunia internasional. Beberapa tahun lalu juga sempat muncul papa minta saham yang melibatkan lingkaran istana dan anggota dewan. Begitu pula terkait aturan ekspor konsentrat yang mewajibkan setiap perusahaan harus mengelola barang mentah di Indonesia. Hal ini ditengarai jika tidak dikelola di Indonesia, kerugianlah yang didapat. Sudah pajak yang disetor sedikit ke kas negara, rakyat di sekitar pun tidak sejahtera.

Sesuai kebijakan pemerintah, Freeport yang sebelumnya mengacu kepada KK, diharuskan beralih ke bentuk Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK). “Bahwa suatu kontrak memaparkan UU bagi pihak-pihak yang berkontrak tersebut dan kontrak tidak dapat diubah atau diakhiri secara sepihak, meskipun berdasarkan hukum dan peraturan perundangan yang diterbitkan kemudian,” tandas Richard C Adkerson (Pejabat Eksekutif Tertinggi Freeport-McMoRan). (okezonefinance, 20/2/2017). Pernyataan ini semakin menunjukkan arogansi Freeport.

Penguasa negeri ini sejak lama memang tidak punya nyali untuk menindak Freeport. Dalam soal royalti dan dividen mereka membungkuk saja di hadapan perusahaan Amerika ini. Freeport hanya memberikan royalti satu persen dari hasil penjualan emas dan 3,75 persen masing-masing untuk tembaga dan perak. Kewajiban yang terbilang sangat rendah dibanding keuntungan yang dikantongi Freeport.

Belum lagi lambatnya pembangunan smelter Freeport. “Jika tetap menginginkan kontrak karya, Freeport harus penuhi keinginan warga Papua untuk membangun smelter di Papua karena sumber mineral yang dieksploitasi juga berasal dari bumi Papua,” kata Bupati Kabupaten Mimika Eltinus Omaleng.

“Bahwa pada prinsipnya, kami akan bangun kembali smelter jika sudah ada kesepakatan (kontrak),” kata Direktur Freeport Indonesia Clementino Remury, saat  rapat dengar pendapat di Komisi VII DPR RI di Jakarta, Rabu (7/12/2016).

Manajemen perusahaan tambang terbesar di Indonesia itu menilai tempat ideal membangun pabrik smelter adalah di Gresik Jawa Timur, bukan di Papua.

Pada prinsipnya , pembangunan smelter di Gresik sudah dilaksanakan, meskipun kemajuannya memang tidak terlalu cepat. Sebelumnya, Freeport menyebutkan, pembangunan smelter Gresik telah mencapai 11,5 persen. Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan yang saat itu menjabat sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Menteri ESDM mengungkapkan, kemajuan pembangunan smelter Gresik tercatat 14 persen per Juli 2016. Dengan demikian, kemajuan pembangunan smelter Freeport hanya mencapai 2,5 persen dalam setahun belakangan. Apa tindakan pemerintah? Nihil.

Ketidakberdayaan pemerintah atas arogansi Freeport menunjukkan ketundukan dan kepasrahan pemerintah atas perusahaan asal Amerika tersebut. Ini juga makin meyakinkan kepada kita bahwa sistem ekonomi Neoliberalisme yang saat ini diadopsi oleh pemerintah benar-benar menjadikan negeri ini tunduk di hadapan asing.

Kelola Tambang Freeport dengan Syariah

Dalam Islam segala macam bentuk sumberdaya yang jumlahnya melimpah merupakan kepemilikan umum. Sumber daya itu diantaranya, minyak, batubara, tembaga, emas, perak, nikel, uranium, bauksit, gas, dsb. Seluruh kekayaan itu wajib dikelola negara dan dikembalikan manfaatnya kepada seluruh rakyat. Pemerintah haram mengambil keuntungan atas rakyat. Begitu pula haram hukumnya menyerahkan penguasaan dan pengelolaan sumberdaya kepada swasta, apalagi swasta asing.

Ini artinya apabila pengelolaan tambang Freeport disesuaikan dengan aturan syariah maka seluruh rakyat akan mampu merasakan dan menikmati manfaat kekayaan alam yang melimpah yang dihasilkan dari bumi cenderawasih ini. Kesejahteraan dan kemakmuran bukan sekedar impian dan harapan, lebih dari itu akan mampu terwujud secara nyata dalam realita.

Ini masih persoalan tambang Freeport, padahal kekayaan Indonesia begitu melimpah. Sayangnya seluruh kekayaan alam itu kini dikuasai asing. Jika syariah diterapkan secara total dan sempurna bukan suatu hal yang mustahil Indonesia akan menjadi negara maju dan kaya dalam sekejap. Oleh karenanya pengelolaan kekayaan tambang Freeport dan seluruh kekayaan alam di Indonesia wajib diatur sesuai syariah. Sedangkan satu-satunya sistem yang mampu mengelola kekayaan alam Indonesia dengan syariah hanya Khilafah, bukan yang lain. Daripada ribut-ribut soal Freeport, ambil alih saja lalu kelola dengan syariah. Beres![]

Langkah yang Harus Diambil Pemerintah Terhadap Freeport

freeport mcmoranDi tengah ancaman Freeport yang akan memperkarakan pemerintah Indonesia ke pengadilan arbitrase internasional karena negosiasi perubahan Kontrak Karya (KK) menjadi Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) belum menemui titik temu, peneliti Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Muhammad Ishak menyatakan ini sebagai momen mengambil alih saham perusahaan tersebut.

“Langkah yang seharusnya diambil pemerintah adalah mengambil alih saham perusahaan tersebut,” tegasnya kepada mediaumat.com, Jum’at (24/2/2017).

Dengan demikian, seluruh potensi pendapatan perusahaan itu dapat digunakan sebesar-besarnya untuk kepentingan rakyat negara ini.  “Apalagi, BUMN Indonesia seperti PT Antam tidak akan kesulitan untuk mengelola tambang itu, ditambah lagi, sebagian besar pekerja di pertambangan tersebut merupakan orang-orang yang berasal dari Indonesia,” bebernya.

Namun, lanjut Ishak, melihat rekam jejak (track record) yang selama ini lebih banyak tunduk kepada kepentingan negara-negara asing khususnya Amerika Serikat, maka pemerintah akan sangat berat untuk melakukan hal ini.

“Alhasil, kasus ini menunjukkan pentingnya sistem yang benar sebagaimana yang diatur Islam bahwa kekayaan alam yang melimpah harus dikelola oleh negara. Selain itu, pentingnya keberadaan pemerintah dapat bersikap mandiri dan berani menolak kepentingan negara-negara imperialis seperti Amerika Serikat,” pungkasnya. (mediaumat.com, 24/2/2017)

Awas Lidah Beracun

Foto: moscowtimes

LIDAH merupakan salah satu nikmat yang besar yang dianugerahkan Allah SWT kepada hambanya, padanya terdapat kebaikan yang banyak dan kemanfaatan yang luas bagi siapa saja yang menjaganya dengan baik. Tetapi pada kenyataannya, manusia sering lalai dalam menjaga titipan Allah SWT ini, maksiat lidahpun seperti hal biasa.

Memang, “Lidah Tidak Bertulang”. Mudah mengucap tapi sulit dikendalikan. Apakah tanpa tulang itu yang membuat manusia sulit untuk menyetir lidahnya? Wallahu a’lam. Banyak sekali masalah yang timbul akibat alat indera yang satu ini, serasa seperti bisa ular berbisa tanpa wujud, perlahan tapi menyakitkan bahkan bisa juga disebut pembunuh tanpa aturan.

Banyak sekali masalah yang timbul akibat ulah si lidah ini. Rasanya, semua permasalahan di muka bumi ini semua berawal dari lidah. Lidah siapa? pastinya lidah manusia. Sebab hingga saat ini, tradisi lisan masih masih menjadi tradisi yang dominan daripada tradisi tulisan. Karena dengan lisan, kita bisa dengan langsung mengutarakan pendapat yang ada di hati.

Kita lihat saja realita saat ini yang terjadi. Banyak sekali manusia berdebat, berdemo, berpidato, berdiskusi. Itu semua dengan menggunakan apa? Dengan lisan pastinya. Mungkin semua itu dilakukan demi kemaslahatan umat. Tapi, bagaimana dengan lisan yang dipergunakan untuk maksiat, bergossip, mencari kesalahan orang lain, membicarakan orang lain, menyakiti orang lain. Astagfirullah. Semoga kita dijauhkan dari sifat yang seperti itu.

Kita ulas kembali lidah ini. seperti apa sih? Lidah bukan hanya sekedar organ tubuh manusia yang dibentuk dengan sedemikian rupa, bukan juga untuk hiasan semata. Lidah manusia dilengkapi dengan gigi, gusi, dua bibir, rongga mulut, tenggorokan serta sumber suara. Jika diamati secara fisik, fungsi lidah tidak lebih hanya untuk fungsi-fungsi biologis semata, seperti mengecap dan mengucap.

Tetapi, jika kita perhatikan dengan baik-baik, fungsi lidah adalah instrumen yang menyatu dengan organ tubuh lain yang mempunyai ruh sebagaimana hati dan akal maka keberadaan lidah sungguh menyimpan banyak sekali misteri.

Lidah selalu berkonspirasi dengan hati. Apapun yang diucapkan oleh lidah seseorang, itu adalah cerminan dari hati. Tetapi, ingatlah! Lidah sering kali berbeda dengan kata hatinya. Sering kali orang bicara dengan lidahnya dengan santun, penuh kelembutan, dan apa yang dikeluarkan dari lidahnya adalah hikmah dan perkataan yang baik. Akan tetapi, terkadang apa yang diucapkannya itu hanya pemanis semata, pemerah bibir sementara, ia menggunakan kata-kata dan lidahnya untuk mengelabuhi bahkan merayu. Astagfirullah. Berhati-hatilah dengan keadaan yang seperti ini.

Dalam sebuah hadist

Nabi SAW bersabda kepada Mu’az bin jabal sambil memegang lidahnya yang bermaksud : “Engkau wajib menahan ini. Maka aku berkata, ya Rasulullah, kami senantiasa mengotakan apa yang kami kata. Nabi berkata, ‘ibumu telah kehilangan engkau, wahai Mu’az. Bukanlah manusia di bantingkan muka ke dalam neraka disebabkan engkara lidah mereka?”. (Hadis Riwayat Bukhari)

Dari hadist tadi kita pasti berpikir, bagaimana balasan yang akan kita terima jikalau lidah kita, hati kita tidak dikendalikan dengan baik. Pepatah Jawa juga mengatakan,

“Ajining diri soko lathi, ajining rogo soko busono” (kebaikan jiwa dilihat dari ucapan, kebaikan raga dilihat dari pakaian)

Oleh sebab itu, kita sebagai manusia biasa haruslah pandai-padai mengendalikan lidah kita, agar kita terhindar dari azab, dan apapun yang kita ucapkan ada guna dan manfaat untuk orang lain. Latihlah lidah kita yang sering berucap yang tak bermakna untuk senantiasa berdzikir kepada Allah, mengingat Allah. Dengan cara itu Insya Allah kita akan terhindar dari fitnah dunia dan azab akhirat. Amin .

Allah SWT berfirman :

قَوْلٌ مَّعْرُوفٌ وَمَغْفِرَةٌ خَيْرٌمِّن صَدَ قَةٍ يَتْبَعُهَآ أَذًى ٌ وَاالَّلهُ غَنِىٌّ حَلِيمٌ

“perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya Lagi Maha Penyantun.” (QS. Al-Baqarah [2]: 263).

Memang artikel ini sudah biasa, mungkin dengan yang biasa inilah yang membuat manusia menjadi tidak biasa. Terima kasih. []